Angin pagi yang masih membekas dingin menyelimuti langit ketika portal bercahaya ungu keperakan terbuka di halaman utama Desa Surya. Di tengah riak energi yang berputar seperti pusaran halus, Lynx berdiri dengan jubah panjang berkibar, menatap ke arah Han Tiansheng dan Xue Yuning yang berdiri bersisian, bersiap kembali ke Sekte Pedang Es. Uap embun masih menggantung di rerumputan, dan langit mulai berganti warna dari gelap menjadi kemerahan. Para penduduk Surya yang belum bisa beristirahat ikut mengantarkan kepergian mereka dengan tatapan penuh terima kasih.

"Waktunya kalian kembali," ucap Lynx pelan, namun penuh keyakinan. Dia mengangkat tangan kirinya perlahan. Selembar kertas putih kecil terjepit di antara jemari panjangnya. Ia menyerahkannya kepada Han Tiansheng tanpa banyak kata. Kertas itu terlihat seperti kertas biasa, namun Leena dan beberapa orang di tempat tersebut mengenalinya sebagai kertas formasi yang menjadi salah satu cara menghubungi Lynx dalam keadaan darurat.

"Apa ini?" tanya Han Tiansheng dengan nada penasaran. Han Tiansheng menerima kertas itu dengan alis sedikit mengernyit. Ia menatap benda sederhana itu seperti mencari rahasia yang tersembunyi. Ia mencoba merasakan jejak spiritual di dalamnya, namun tidak ada satu pun aliran qi yang bisa dideteksi. Matanya beralih pada Lynx, penuh tanda tanya.

"Itu bukan kertas biasa," ujar Lynx, senyumnya muncul sekilas. "Jika Sekte Pedang Es berada dalam bahaya, atau jika kalian menghadapi keluarga Baihuan nanti dan membutuhkan kehadiranku, sobek kertas itu. Di mana pun aku berada, aku akan tahu. Dan aku akan datang."

Mendengar hal itu, Han Tiansheng merasa gembira dan segera menyimpannya dengan baik meskipun sedikit keraguan terpancar karena dia tidak melihat sesuatu yang spesial di kertas tersebut, tapi dia yakin, pemuda di depannya tidak akan membohonginya. Matanya melebar sedikit sebelum menunduk dalam. "Ini... sangat berharga. Terima kasih, Tuan Xiao."

"Kalian tidak perlu sungkan, jasa kalian sangat besar artinya bagiku. Jangan ragu menggunakannya. Aku pasti akan berusaha datang secepatnya," janji Lynx. Nada suaranya datar, tapi setiap katanya membawa bobot berat. Ia tak perlu menjelaskan bahwa bantuan yang ia janjikan bukan sekadar kata-kata.

Xue Yuning tersenyum lembut. "Sekte kami tak akan melupakan ini, Tuan Xiao. Dan juga Anda, Nyonya Xiao?"

Lala yang mendengar perkataan Leluhur Xue Yuning berdeham pelan menggoda Leena, "Hm... Hm... Nyonya Xiaooo..."

Leena yang mendengarnya tersipu malu dan menundukkan kepala.

Lynx yang mendengar canda mereka hanya tersenyum tipis. Cahaya portal mulai bergetar, dan dalam sekejap tubuh kedua leluhur itu menghilang, tersapu energi teleportasi yang murni dan kuat, membawa mereka kembali ke pegunungan dingin tempat sekte mereka berdiri.

Setelah cahaya portal memudar, Lynx membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam aula pertemuan. Beberapa tetua Suku Surya dan penduduk telah berkumpul, duduk melingkar dengan pakaian seadanya, namun sorot mata mereka menunjukkan kesiapan. Di antara mereka ada Kael, Arkha, Narendra, Jelita, serta Leena dan Lala.

"Lala, bagaimana keadaan para penduduk?" tanya Lynx sambil memandang Lala.

"Aman, Bos. Kanha meski masih anak-anak tapi dia sangat bisa diandalkan. Dia bahkan lebih cerdas dari..." Lala tidak melanjutkan kata-katanya, namun matanya menatap Narendra dan beberapa orang di sekitar. Selama menjaga para penduduk yang menderita, Lala sudah beberapa kali mengajarkan mengenai peralatan canggih yang ada di teknologinya, namun hanya Kanha yang dapat dengan cepat memahami. Nalarnya dalam memahami hal baru mengalahkan orang-orang yang berusia di atasnya.

Narendra, Jelita, dan beberapa penduduk hanya menunduk malu atas ketidakmampuan mereka. Selain karena mereka tidak bisa membaca, mereka juga takut jika alat tersebut rusak akibat kesalahan dalam mengoperasikannya.

Lynx lalu menatap semua yang hadir dengan tenang, lalu membuka suara. "Kita punya banyak pekerjaan. Aku akan membagi-bagi tugas untuk segera dijalankan. Tentunya setelah kalian semua cukup beristirahat."

Suasana mendadak sunyi.

"Kael, Arkha," katanya sambil menatap keduanya. "Kalian berdua akan kembali ke Kota Zhurong bersama Tetua Rasyid dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin. Bawa beberapa penduduk yang mampu menyamar dan bergerak cepat. Fokus utama kalian adalah menemukan Karim dan mendapatkan informasi mengenai para penyihir. Temukan juga informasi yang kemungkinan dapat membahayakan suku kita."

Kael mengangguk mantap. "Kami akan segera berangkat."

"Pastikan kalian selalu membawa kertas formasi agar aku bisa mengetahui keberadaan kalian," tambah Lynx. "Jika terjadi hal darurat, kirim sinyal."

Lynx kemudian menoleh ke Narendra yang duduk tegak di sudut ruangan. "Narendra, mulai hari ini kau akan melatih teknik kultivasi dasar kepada anak-anak di desa dan orang-orang yang sanggup berlatih. Mereka harus bisa memanfaatkan qi spiritual di tempat ini dengan baik."

Narendra menundukkan kepala dalam-dalam. "Baik, Guru."

Namun dalam hati Narendra mengeluh dan menghela napas panjang, "Aku mendapat tugas melatih, lalu kapan Guru Lynx melatihku."

Leena, Lala, Jelita, Kael, dan Arkha tersenyum geli karena mereka bisa menebak jalan pikiran Narendra dan merasa sedikit prihatin. Lynx terlalu sibuk dengan banyak hal sehingga belum dapat melatihnya.

"Jelita dan Nenek Drona," lanjut Lynx sambil melempar pandang ke arah keduanya. "Bantu Lala meneliti cara menyelamatkan para penduduk."

Jelita mengangguk lembut, sementara Nenek Drona hanya mengeluarkan gumaman setuju.

"Untuk para tetua lain," ujar Lynx sambil menatap satu per satu mereka. "Tugas kalian adalah memastikan keamanan desa, periksa jalur keluar masuk, dan pastikan semua penduduk memiliki tempat yang layak untuk beristirahat. Kita harus pastikan para penduduk Surya bisa menikmati kebebasan di dunia ini dengan baik."

"Setelah ini, aku akan mempersiapkan portal permanen yang menghubungkan desa ini dengan Kota Zhurong melalui Paviliun Bulan Perak," jawab Lynx mantap. "Sehingga kalian bisa keluar masuk memenuhi kebutuhan dan membawa tanda pengenal khusus agar bisa memasuki portal tersebut."

Suasana menjadi hening sejenak, menanti Lynx menyampaikan semua perintah yang harus mereka lakukan. Meski dalam keadaan kelelahan, Lynx tidak ingin menunda waktu memperbaiki kehidupan para Suku Surya karena sudah terlalu lama mereka hidup menderita.

Setelah keadaan santai, Tetua Raka mengangkat tangan. "Tuan Lynx... maaf jika pertanyaanku terdengar lancang, tapi... mengapa para leluhur tadi memanggilmu dengan nama Tuan Xiao?"

Leena tertawa kecil dan melirik Lynx. "Di dunia ini, karena kita pendatang, Lynx sengaja menggunakan nama samaran untuk menghindari keributan yang tak perlu."

Ia menghela napas sebentar, lalu tersenyum lebar. "Lynx di dunia ini dikenal dengan nama Xiao Ling. Sedangkan aku, aku menggunakan nama Ling Mei."

Lala yang berdiam diri tiba-tiba berdiri dan menyela dengan suara nyaring, "Dan aku! Jangan lupa aku!" Ia meletakkan tangan di pinggang dengan gaya dramatis, dagunya terangkat penuh keangkuhan lucu. "Namaku Qian Lanyi! Di sini, aku sangat terkenal, tahu!"

Beberapa tetua tergelak kecil.

Sambil tertawa, Lala menarik tangan Jelita yang duduk di sebelahnya dan berkata dengan nada menggodanya, "Dan si cantik kita ini, namanya Yun Qing."

Wajah Jelita memerah, tapi ia tertawa juga, sambil merangkul lengan Lala.

Tawa mulai pecah di aula. Lala dan Jelita mulai menceritakan pengalaman mereka. Meski saat membangun desa mereka sudah pernah membahasnya, namun mereka masih bersemangat untuk mendengarkan kembali. Bagaimana pengalaman mereka masing-masing setelah menembus portal dimensi, tentang kekuatan para kultivator, sistem budaya dan kerajaan, dan berbagai pengalaman lainnya.

Di antara tawa canda mereka, wajah Jelita tersenyum sambil menahan kepedihan di hatinya. Kisah tiga tahun dia menjadi istri Lynx tidak pernah dibahas kembali. Mereka semua hanya mengetahui Jelita menjaga Lynx yang hilang ingatan hingga sadar kembali dan mencari mereka semua. Tanpa dia sadari, teknik kultivasi Jade Serene Flow yang diberikan oleh Lynx menjadi energi gelap yang bangkit karena kebenciannya, terutama efek dari minuman sihir yang pernah diberikan Mira kepadanya.

Suara tawa mereka mulai terdengar sampai ke luar aula.

Penduduk lainnya yang belum bisa tidur mendengar riuh ikut berdatangan. Mereka duduk di ambang pintu atau berdiri di pelataran sambil tertawa-tawa mendengar kisah-kisah gila itu. Anak-anak bahkan ikut menirukan gaya Lala ketika menggambarkan dirinya mengalahkan para penjahat. Mereka berusaha melepaskan kesedihan karena kondisi keluarga mereka dan yakin kepala suku pasti akan menemukan cara menyelamatkan mereka.

Suasana subuh yang awalnya berat berubah menjadi hangat, penuh keakraban. Tawa dan senyum menyebar, seperti api unggun yang perlahan menghangatkan jiwa mereka. Sinar matahari mulai perlahan menyinari Desa Surya, memberikan cahaya harapan yang mulai menyala kembali.

